Langsung ke konten utama

Kisah Latihan Puspa Arumsari Untuk Memperoleh Medali Emas

BERLATIH 6 JAM SETIAP HARI DEMI MEDALI EMAS

Puspa Arumsari (25) menyumbang medali emas ke-13 untuk Indonesia, la meraih poin tertinggi, 467, sekaligus menghentikan langkah atlet asal Singapura, Nurzuhariah Mohammad Yazid (445 poin). Kemenangan di Asian Games 2018 bukanlah prestasi pertama Puspa. Atlet kelahiran 10 Maret ini pernah meraih juara 1 ASEAN University Games 2014 di Palembang dan membawa pulang medali perunggu dari SEA Games Malaysia, tahun lalu.

"Saya berlatih pencak silat sejak kelas 5 SD. Abang saya pelatih pencak silat. Dia orang pertama yang mengajak saya main silat," Puspa mengawali perbincangan. Kejuaraan pertama yang diikuti Puspa, UNJ Open, ketika ia duduk di kelas 6 SD. "Namanya anak kecil, pulang lomba bawa medali pasti senang banget. Sejak itu saya makin termotivasi berlatih lebih giat agar bisa ikut pertandingan lainnya," Puspa menyambung.


"Sebulan menjelang Asian Games, kami dikarantina di Jakarta. Saat itu saya curi-curi waktu untuk pulang dan mencicipi masakan Mama. Meski hanya satu jam di rumah, lumayan untuk mengisi semangat setelah capai berlatih"

Keputusan Puspa awalnya ditentang orang tua. Apalagi ketika masuk tim pelajar pencak silat SMP, waktu latihannya sore sedangkan jam sekolahnya siang ke sore. Akibatnya, iasering tidak masuk sekolah. Puncaknya, orang tua Puspa dipanggil kepala sekolah.

"Intinya saya disuruh memilih antara sekolah dan pencak silat. Orang tua memilih sekolah. Akhirnya saya keluar dari tim pelajar pencak silat tapi tetap berlatih pencak silat di perguruan pada malam hari," ungkap Puspa yang kemudian belajar di Perguruan Persaudaraan Setia Hati Terate di TMII.
Puspa sadar, risiko terbesar menjadi atlet bela diri, cedera. la pernah mengalami cedera lutut saat persiapan PON 2016 di Bandung. "Cedera itu sebenarnya sudah ada dari beberapa tahun sebelumnya tapi tidak terasa. Saya sampai harus dioperasi agar cepat pulih. Sebenarnya saya tidak mau dioperasi. Namun daripada saya tidak bisa bertanding, saya bersedia. Bersyukur akhirnya bisa ikut PON waktu itu," Puspa mengenang.

Saat Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah Asian Games, Puspa memipersiapkan diri agar lolos seleksi dan berlaga di ajang itu. "Saya menjalani karantina dan berlatih selama 6 jam per hari agar bisa tampil maksimal. Selama karantina, saya tidak bisa bertemu keluarga atau teman-teman. Sebulan menjelang Asian Games, kami dikarantina di Jakarta. Saat itu saya euri-curi waktu untuk pulang dan mencicipi masakan Mama. Meski hanya satu jam di rumah, lumayan untuk mengisi semangat setelah capai berlatih," aku mahasiswi Jurusan Desain Grafis Politeknik Negeri Jakarta.

Jerih payahnya terbayar dengan medali emas. Puspa kini bisa menghabiskan rebih banyak waktu di rumah; Disinggung soal bonus, Puspa menyebut uang itu ditabung. Bonus lain dari pemerintah, para atlet peraih medali menjadi PNS. "Meski peluang menjadi PNS telah terbuka, saya tetap ingin punya bisnis yang berkaitan dengan bidang pendidikan saya yakni desain. Harapan saya, bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain," Puspa mengakhiri perbincangan.
Postingan Terbaru

Komentar

Postingan Populer

FC Bayern München‬, ‪Carlo Ancelotti‬, ‪Franck Ribéry‬, ‪A.C. Milan‬, ‪Josep Guardiola‬‬ 24 Jul 2016

Ini Top Pencarian di Malaysia To Day. Chelsea Vs Liverpool,  Alaba following Ribery's example to be a leader at Bayern   Bayern Munich 3 AC Milan 3 (3-5 on penalties): Bonaventura seals win   DAFTAR ISI TOP TO DAY

Bidang Studi Pariwisata | Pengelolaan Pariwisata | Usaha Perjalanan Wisata | Perhotelan & Administrasi Hotel

Pendidikan pariwisata boleh dikatakan masih sangat muda di Indonesia. Kita perlu memaklumi hal ini, mengingat ilmu pariwisata baru diakui resmi sebagai ilmu mandiri di tahun 2008. Jauh sangat baru kalau dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Bahkan lulusan pendidikan pariwisata di Indonesia masih terbilang sedikit. Lalu, muncul pertanyaan, apakah dengan ilmu yang tergolong muda ini seorang lulusan pariwisata dapat berhasil di masa depan, mendapat kesejahteraan hidup seperti lulusan-lulusan jurusan lainnya. Pada artikel ini, sahabat Studi Pariwisata akan mendapat informasi mengenai informasi beberapa program studi yang ada dalam pendidikan pariwisata beserta peluang kerja apa saja yang sesuai dengan keilmuan program studi tersebut. Pengetahuan ini sangat perlu bagi mahasiswa pariwisata maupun calon mahasiswa yang sedang menimbang-nimbang untuk memilih jurusan yang akan menjadi tempat belajar beberapa tahun yang akan datang. Jurusan Hospitality / Pengelolaan Pariwisata Jurusan ini menera...

Penjabat Kementerian Periode 2019 - 2024, Yang Dilantik 23 Oktober 2019

Pelantikan Menteri Kabinet Indonesia Maju Oleh Presiden RI  Periode 2019 - 2024   Presiden : Joko Widodo  Wakil Preiden : Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma'ruf Amin Berikut nama menteri kabinet 2019-2024 dan kementerian atau lembaga yang dipimpinnya, disusun berdasarkan daftar yang dibacakan Joko Widodo. 1. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan: Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD.,  S.H., S.U. Lahir di Sampang, Madura, Jawa Timur, 13 Mei 1957 Pernah menjabat : sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia priode 2019-2024. Dia pernah menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2013 dan Hakim Konstitusi periode 2008-2013. Sebelumnya ia adalah anggota DPR dan Menteri Pertahanan pada Kabinet Persatuan Nasional. Ia meraih gelar Doktor pada tahun 1993 dari Universitas Gadjah Mada. Sebelum diangkat sebagai Menteri, Ia adalah pengajar dan Guru Besar Hukum Tata Negara di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyaka...

Kisah Haru Pendekar Asian Games 2016 Wewey Wita

Kisah haru lainnya datang dari pesilat Wewey Wita. la meraih medali emas Asian Games usai mengalahkan pesilat Vietnam, Thi Them Tran, di final kelas B (50-55 kg). Di balik prestasi dan paras cantiknya, Wewey menyimpan kisah hidup memilukan. Wewey tertarik dengan olahraga sejak kelas 5 SD. Setahun kemudian, sekolahnya membuka kegiatan ekstrakurikuler pencak silat. Pada pertengahan semester diadakan pertandingan. Wewey saat itu belum bergabung apalagi belajar pencak silat. Tiba-tiba, ia didaftarkan ikut pertandingan itu oleh seorang guru. Sehari sebelum bertanding, Wewey diajak ke GOR untuk berlatih. "Kata kepala sekolah, saya sudah punya kemampuan dasar karate. Jadi tidak sulit untuk mempelajari silat. Saya benar-benar baru belajar. Enggak menyangka, saya menang, meraih juara 1 dan dapat gelar pesilat terbaik," kenang wanita kelahiran Tangerang, 5 Februari ini. Selain gelar, Wewey mendapat hadiah uang tunai. Ini membuatnya bersemangat. "Karena dapat uang, saya berpikir, m...
Copyright © Searig. All rights reserved.